Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi perilaku bucin yang berlebihan dan mulai fokus pada pembangunan karakter diri yang mandiri, baik saat sedang berpasangan maupun saat sendiri.
Kalau kamu merasa hidupmu berputar 24/7 cuma buat urusan percintaan sampai lupa caranya nongkrong sama teman atau ngejar hobi, mungkin kamu sedang berada di posisi .
Melihat orang lain dimanjakan pasangannya membuat banyak orang merasa "kurang" jika tidak mendapatkan hal yang sama. Akhirnya, seseorang rela melakukan apa saja (menjadi budak) demi bisa pamer kemesraan yang setara di media sosial. Akhirnya, seseorang rela melakukan apa saja (menjadi budak)
Topik sosial saat ini tidak bisa lepas dari peran algoritma. Media sosial menciptakan standar yang tidak realistis tentang bagaimana sebuah hubungan seharusnya berjalan.
Secara sosial, ini juga menciptakan ketergantungan yang tidak sehat. Ketika hubungan tersebut berakhir, seseorang seringkali merasa dunianya runtuh total karena mereka tidak menyisakan ruang untuk diri mereka sendiri selama berhubungan. Cara Keluar dari "POV" Ini bukan seluruh isi hidupmu.
Hubungan seharusnya menjadi pelengkap hidup, bukan seluruh isi hidupmu. Berikut cara untuk kembali memegang kendali:
Pernah dengar istilah "Budak Relationship"? Bukan, ini bukan soal perbudakan dalam arti harfiah, tapi sebuah fenomena modern di mana seseorang seolah kehilangan identitas pribadinya demi menyenangkan pasangan atau mengikuti tren sosial yang melelahkan. Akhirnya, seseorang rela melakukan apa saja (menjadi budak)
Secara bahasa slang, kita mengenalnya dengan sebutan bucin (budak cinta). Namun, "budak relationship" punya makna yang lebih dalam. Ini adalah kondisi di mana validasi diri seseorang 100% bergantung pada status hubungannya.
Cinta bukan berarti harus nempel 24 jam. Punya waktu sendiri (me-time) adalah tanda hubungan yang sehat.